Program Seni Budaya Banyuwangi Harus Dorong Kesejahteraan Masyarakat

 

09-02-2016 | Oleh : Bidang Kesejahteraan Rakyat & Pemerintahan

Banyuwangi - Budaya dan keragaman seni di Banyuwangi semakin mengakar kuat seiring berkembang pesatnya promosi wisata ke dunia internasional. Kolaborasi keduanya itu dinilai harus bisa sejajar dengan dorongan sinergitas pemerintah daerah dalam mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.
 
Bupati Banyuwangi terpilih Abdullah Azwar Anas yang sedianya akan dilantik 17 Februari mendatang menyatakan, program pengembangan kebudayaan yang digerakkan harus didefinisikan secara luas terkait sistem, gagasan dan hasil karya masyarakat.
 
Menurutnya pembangunan dengan pendekatan budaya bukan sesempit kala pemerintah daerah menggelar gebyar pertunjukan seni tari atau pameran lukisan. Namun Kota Sewu Gandrung ini menjabarkan jika kebudayaan pun menjadi strategi untuk melakukan tiga konsolidasi.
 
"Maka kebudayaan bukan hanya tari, musik, lukis, atau jenis seni-seni lainnya saja. Karena salah satu tugas bupati adalah menyejahterakan masyarakat, maka program pengembangan kebudayaan yang digerakkan pemerintah juga harus mampu meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat," ujar Anas saat berbincang dengan detikcom, Senin (8/2/2016).
 
Secara gamblang Anas menjabarkan, konsolidasi yang pertama memegang perananan ialah masyarakat. Dengan pendekatan kebudayaan, masyarakat merasa lebih terlibat dalam pembangunan daerahnya. Masyarakat secara langsung akan ikut andil dalam mengkreasi program pengembangan daerah.
 
"Warga bisa ikut terlibat bersama-sama menciptakan karya yang bermanfaat bagi sesama, bagi daerahnya," kata Anas.
 
Kedua, konsolidasi birokrasi. Dengan program-program pengembangan kebudayaan, birokrasi tak lagi terjebak ego sektoral. Pasalnya, program pengembangan budaya pastilah berdimensi multi sektor. Semisal, infrastruktur jalan, teknologi informasi, peningkatan SDM warga dan sebagainya.
 
"Contoh konkrit misalnya, bagaimana budaya agraris masyarakat bisa saling dukung dengan kemasan wisata, maka muncullah konsep agrotourism. Inilah yang mengikis ego sektoral birokrasi, karena melibatkan banyak dinas sekaligus," ujar Anas yang terpilih kembali dalam Pilkada Banyuwangi 9 Desember 2015 lalu dengan suara 88,96 persen tersebut.
 
Ketiga, konsolidasi penguatan ekonomi rakyat. Dengan pendekatan budaya, Banyuwangi ingin berkreasi menjadi daerah yang maju secara ekonomi dengan akar budaya yang tetap membumi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pendapatan per kapita Banyuwangi melonjak 62 persen dari Rp20,8 juta (2010) menjadi Rp33,6 juta (2014). Kalkulasi pemerintah daerah, pada 2015 diprediksi bisa menembus Rp 38-29 juta. Berdasarkan data BPS, pendapatan per kapita Banyuwangi sudah berhasil melampaui sejumlah kabupaten/kota di Jatim yang sebelumnya selalu di atas Banyuwangi.
 
"Setelah peningkatan secara statistik kuantitatif itu, kita harus mendorongnya ke arah kualitatif. Maka kita bicara pemerataan ekonomi. Ini menjadi pekerjaan rumah kami ke depan dengan terus mengembangkan daerah berbasis pendekatan budaya," ujar Anas.
 
Pendekatan budaya dalam pembangunan sangat relevan karena pendekatan budaya mengharuskan pemahaman terhadap masing-masing kelompok masyarakat tidak digeneralisasi, namun dibikin unik berdasarkan karakter dan potensinya.
 
"Misalnya, di kawasan utara, didekati dengan kebijakan A. Adapun di kawasan selatan, dengan karakter dan potensi yang berbeda, didekati dengan kebijakan B. Ini yang sedang terus kami lakukan, tentu dengan masih banyak kekurangan di sana-sini," kata Anas.
(fat/detiknews)(rzl)