Arisan Jamban Pujasera jadi Nominator Layanan Publik Terbaik Nasional

 

04-03-2016 | Oleh : Bidang Kesejahteraan Rakyat & Pemerintahan

Banyuwangi - Sejumlah inovasi Banyuwangi di bidang kesehatan masuk dalam jajaran terbaik versi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB). Diantaranya ialah program "Arisan Jamban".

Sebuah inovasi Pujasera atau Pergunakan Jamban Sehat, Rakyat Aman. Program itu menjadi nominator layanan publik terbaik 2016 yang kini memasuki tahap penilaian akhir.

"Pujasera menjadi salah satu inovasi pelayanan publik terbaik di Kemenpan-RB. Ini untuk kesekian kalinya inovasi dari Banyuwangi masuk dalam jajaran terbaik nasional. Tentu ini menjadi pemacu semangat bagi kami untuk meningkatkan kualitas inovasi layanan," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Kamis (3/3/2016).

"Arisan Jamban" Pujasera masuk dalam gerakan bebas buang air besar (BAB) di sembarang tempat alias Open Defecation Free/ODF. Yang menjadi subyek gerakan ini adalah masyarakat desa di wilayah Puskesmas Tampo. Wilayah ini dijadikan sasaran sebab sebagian warga di wilayah selatan Banyuwangi itu masih memiliki kebiasaan buang air besar (BAB) di sungai.

Di dusun-dusun setempat oleh Puskesmas Tampo dibentuk "Arisan Jamban" yang setiap bulan diundi. Setiap warga yang beruntung akan dibangunkan jamban oleh para kader Pujasera yang siap siaga membantu warga.

"Setelah itu, warga dan kader Pujasera bersama-sama membangunkan jamban untuk warga kurang mampu tersebut. Juga ada intervensi pemerintah dalam bentuk bantuan untuk melengkapinya," jelas Anas.

Selain arisan jamban, sejumlah program lainnya seperti kampanye ODF ikut secara masif melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan Satgas ODF. Puluhan kader Pujasera menjadi promotor program yang berisikan ajakan menggunakan jamban sehat melalui  gerakan membongkar jamban di sungai. Pemerintah setempat juga memfasilitasi memberikan pinjaman dengan bunga lunak bermitra dengan program lain yang melibatkan penyedia bahan bangunan.

Hasil dari gerakan di wilayah Puskesmas Tampo, kata Anas, terwujud 2 desa ODF dari empat desa. Sebelumnya hanya ada 1000 keluarga lebih yang memiliki jamban, namun kini jumlahnya melesat 386 persen.

"Melesat 5 kali lipat menjadi 5.025 keluarga atau meningkat 386 persen. Tahun ini juga empat desa di Puskesmas Tampo bisa ODF semuanya. Semua keluarga akan memiliki jamban pribadi," papar Anas.

Anas mengatakan, beberapa kasus di mana warga masih BAB di sungai bukan semata-mata karena persoalan ekonomi, tapi karena telah memupuk hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan.

"Mereka punya ternak banyak, kebun buah yang cukup bagus, artinya secara ekonomi relatif  mencukupi, tapi tetap BAB di sungai karena kalau di jamban justru bagi mereka tidak nyaman. Oleh karena itu, pendekatannya terintegrasi. Ada peran tokoh agama, ada aspek kesehatan, dan ada intervensi ekonomi bagi warga yang kurang mampu membikin jamban sendiri," papar Anas.

Anas menambahkan, di Banyuwangi, pihaknya mewajibkan setiap 45 unit Puskesmas yang ada untuk membuat inovasi berdasarkan karakteristik permasalahan yang ada. Begitu berhasil, inovasi itu direplikasi ke daerah Puskesmas lainnya.

Sejumlah inovasi lain diantaranya program Air Limun (Apresiasi Ibu Cerdas Peduli Imunisasi) dan Sakti (Stop Agka Kematian Ibu dan Bayi). Hasilnya, angka kematian bayi per 1.000 kelahiran berhasil dari 9,31 (2012) menjadi 6 (2014), berhasil melampaui target MDGs untuk Banyuwangi yang sebesar 23. Adapun angka kematian Ibu juga menurun drastis dari 142 menjadi 93, berhasil melampaui target MDGs sebesar 102.

"Itu untuk tahun 2014. Tahun 2015 masih didata, yang pasti untuk indikator kematian Ibu dan bayi semakin menurun dari tahun 2014," pungkas Anas.

(detiknews/fat)(rzl)