Menengok Bengkel Kayu Siap Ekspor Hasil Kreasi Napi Lapas Banyuwangi

 

19-04-2016 | Oleh : Bidang Kesejahteraan Rakyat & Pemerintahan

Banyuwangi - Suara dengung mesin pemotong kayu dan pukulan palu menderu bertalu menjadi satu. Di balik jeruji penjara, sebuah bangunan sebesar 10x20 di kompleks LP II B Banyuwangi menjadi ruang paling tersibuk.

Bongkahan balok-balok kayu pohon asem, mahoni dan akasia yang bertumpuk di salah satu sudut diangkut satu per satu oleh sekelompok pria. Tanpa diberi komando sekalipun, sekitar 50 warga binaan pilihan ini dengan sigap menyelesaikan tahap demi tahap kerajinan kayu tersebut.

Dengan menggunakan mesin-mesin pinjam pakai milik using craft, satu per satu tahanan pria itu ada yang mengolah bahan mentah, membentuk kayu hingga kemudian di proses dengan telaten menjadi perabot perlengkapan rumah tangga.

Dalam sebulan, warga binaan pilihan tersebut bisa menghasilkan 10 ribu kerajinan. Seperti, piring, mangkuk, sendok, garpu dan perabotan lainnya. Hasil kerajinan mereka, ditampung oleh using craft, salah satu perusahaan kerajinan ternama di Banyuwangi.

Sesekali untuk menghilangkan penat saat bekerja, para warga binaan ini saling bersahut bersenandung lagu using (lagu khas Banyuwangi). Wajah sangar mantan jambret, penjudi dan perampok itu kini tak lagi nampak. Pun raut kesedihan juga penyesalan kini tidak lagi terbersit dalam bayangan mereka. Para kumpulan napi tersebut lebih memilih fokus memperbaiki diri dan mengasah kemampuan baru, supaya kelak lebih bermanfaat saat mereka kembali menghirup udara segar.

"Di sini ada sekitar 50 penghuni lapas yang dilatih oleh Using Craft untuk membuat kerajinan. Mereka orang orang pilihan karena nggak semuanya bisa membuat kerajinan. Pengerjaan mulai kayu mentah sampai siap kirim ke Jepang, semua dikerjakan di Lapas Ini," kata Marlik Subianto, Kepala Lapas Kelas II B Banyuwangi ketika berbincang dengan detikcom, Senin (17/4/2016).

Pagi ini, ruang produksi lapas lebih sibuk dari hari biasanya. Bambang Hariyono, pemilik Using Craft bersama beberapa rekannya dari Jepang, Hongkong dan Singapore sengaja datang mengunjungi lapas. Memasuki tahun ke 8 bekerjasama dengan lapas Banyuwangi, mereka tak hanya berkunjung tapi juga melatih, memberi peluang dan kesempatan untuk berkarya. Kedatangannya juga untuk melihat kualitas kinerja dan hasil produksi kerajinan bikinan warga binaan lapas yang siap kirim ke Jepang dan Eropa.

Kehidupan di balik jeruji penjara tentu saja mengekang interaksi warga binaan yang mendekam di lapas. Meski begitu, pelatihan bertahap dan konsisten yang Bambang dan rekan kerjanya berikan itu mampu merubah pola pikir dan tangan kreatif para warga binaan ini menjadi lebih positif dan produktif.

"Kita rutin berikan pelatihan, ini kunjungan untuk melihat kinerja teman-teman di lapas. Sambil kontrol kualitas hasil kerajinan yang siap kirim ke Jepang dan Eropa," kata Bambang sambil melihat kerajinan kayu hasil keterampilan para tahanan.

Upaya Bambang tak berlebihan, ia hanya ingin membantu warga binaan bisa terlepas dari jeratan masalah ekonomi yang dinilainya memicu para narapidana melakukan lagi tindak kejahatan.

Setiap kerajinan yang dihasilkan warga binaan, kata Bambang, diberi upah sesuai kesepakatan dan sistem pembayaran yang disesuaikan dengan aturan Lapas Banyuwangi. Meski enggan menyebutkan secara rinci, Bambang mengungkapkan jika sebagian hasil kerja keras mereka ditabung dan akan diberikan untuk kebutuhan narapidana saat bebas.

Tak hanya itu, warga binaan yang telah bebas dari hukuman juga tetap memiliki ruang untuk bekerja sama dengan using craft. Selain itu upaya ini juga meruapakan peran sertanya dalam pengentasan pengangguran, kemiskinan dan ketersediaan lapangan kerja.

"Mayoritas warga binaan itu terjerat  masalah kriminal lantaran masalah ekonomi. Tujuannya jika warga binaan diberikan keterampilan baru maka mereka memiliki bekal keterampilan yang bisa dikembangkan saat sudah bebas. Kita juga mau menampung keahlian dan keterampilan mereka," pungkasnya.
(fat/detiknews)(rzl)