Gunakan Pewarna Alam Untuk Membatik, Lebih Hemat dan Ramah Lingkungan

 

25-04-2016 | Oleh : Bidang Kesejahteraan Rakyat & Pemerintahan

Banyuwangi - Seiring meningkatnya tren 'back to nature' penggunaan pewarna berbahan alami menjadi pilihan. Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan (Disperindagtam) Kabupaten Banyuwangi pun melatih ibu-ibu di Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh untuk belajar membatik menggunakan bahan pewarna alam.

"Pengen belajar pewarnaan alami. Ini masih kesulitan karena perlu proses lagi, masih perlu belajar lagi," ujar salah satu peserta Pembinaan Kemampuan Keterampilan Kerja Masyarakat Bimbingan Teknis Produksi Batik, Sulistyawati di Desa Singolatren, Singojuruh, Banyuwangi, Minggu (24/4/2016).

Salah satu kader PKK dan Posyandu, Siti Masburoh Asy'ari (36), didapuk menjadi ketua kelompok dalam pelatihan ini. Dia pun mengaku antusias dan senang karena mendapat pelatihan membatik menggunakan bahan pewarna alam.

"Tahun lalu sudah ada pelatihan membatik dari PNPM Mandiri, tapi waktu itu menggunakan pewarna sintetis. Saya lebih senang yang sekarang karena hemat air dibandingkan yang sintetis," kata Siti.

Siti menuturkan bila di desanya rata-rata warganya bekerja sebagai buruh tani dan ibu rumah tangga. Terkadang ibu-ibu itu juga menambah penghasilan dengan menerima pesanan bordir atau payet. Pesanan bordir dan payet biasa diterima dari pengusaha konveksi yang menyetor dagangan ke Bali. Dia kemudian membandingkan penghasilan membatik dengan membordir.

"Per lembar kalau untuk nyanting (menggambar dengan malam) dapat Rp 20-30 ribu tergantung motifnya dan satu hari bisa dapat 2-3 kain. Kalau bordir per lembar bisa Rp 60-75 ribu tapi durasinya tiga hari. Ya mending batik," ujar warga Dusun Krajan ini.

Untuk pelatihan ini Disperindagtam mendatangkan mentor Gamal Bya yang berasal dari Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta. Gamal menjelaskan dirinya melatih ibu-ibu untuk menmbatik dengan motif batik yang menunjukkan identitas Banyuwangi.

"Saya mengkhususkan mereka eksplor dengan motif karyanya di sini. Jangan meniru dari Jogja seperti motif parang atau wahyu temurun karena di Jogja sudah puluhan bahkan mungkin ratusan tahun membatik menggunakan motif itu hasilnya akan beda. Jadi sudah nggak mungkin kecuali mereka (membatik) dengan motifnya dia yang menunjukkan kearifan lokal dia di sini," ujar Gamal.

Dari sekitar 20 peserta pelatihan Gamal mengaku sudah melihat bakat pengusaha dari sejumlah ibu-ibu yang mengikuti pelatihan. Menurutnya hal itu bisa dilihat dari kerapian mereka menyanting dan ketekunan dalam bekerja.

"Kita berharap dari 20 peserta ada 5 orang bisa, syukur kalau bisa semuanya. Di sini saya melihat 45 persen yang potensial. Dilihat dari kerapian dia menyanting mengikuti garis, sedikit temblok (tetesan lilin malam di kain). Untuk mengurangi temblok itu kan makanya orang nyanting ditiup ujungnya itu untuk menyesuaikan suhu," jelasnya.

Gamal kemudian menunjukkan bahan pewarna yang digunakan dalam pelatihan ini. Dia mengatakan untuk warna soga atau coklat diambil dari kulit kayu tingi, tegeran dan jambal sedangkan untuk warna biru didapat dari indigo.  

"Fermentasi indigo hanya menghasilkan warna biru balon, dia warna paling mahal karena proses (fermentasinya) lama," paparnya.

Gamal kemudian menjelaskan proses pembuatan pewarna dari bahan indigo. Pengambilan getah dari pohon indigo harus didiamkan enam bulan. Setelah itu ranting dan daun direndam selama 48 jam, setelah terjadi pembusukan ampas (ranting dan daun) dibuang. Sisa residu dicampur dengan gamping dan diaduk.

"Nantinya indicoat akan terikat dengan kapur dan menjadi endapan. Airnya yang dipakai, ini baru persiapan bahan belum mewarnai. Untuk pewarnaan kita reduksi lagi 1:1 dengan air 8 liter didiamkan semalam," tandas pria asal Yogyakarta ini.

Meski proses mendapatkan bahan pewarna alami ini tergolong ribet tapi dia meyakinkan bila limbah pewarna ini lebih ramah lingkungan dibandingkan yang sintetis.   Penggunaan bahan pewarna alam pun diklaim lebih hemat dari segi biaya produksi.

"Sekarang logikanya barang untuk sintetis kita impor setelah kita proses kita mau kirim keluar negeri ditentang katanya mengandung karsinogen, Amerika nolak. Sekarang juga bahan pewarna sintetis banyak yang hilang, misalnya bikin warna hitam tidak bisa langsung jadi harus lewat tambahan-tambahan lainnya jadi memakan biaya," bebernya.

Untuk itu dia pun menekankan pewarna alam menjadi pilihan terbaik bagi ibu-ibu di pelatihan ini. Ketersediaan bahan baku pun juga melimpah.

"Banyak pohonnya di daerah Mangir ada di pinggir jalan, nanti bisa juga dibudidayakan seiring meningkatnya produksi," ujarnya optimis.

Sementara itu  Siti juga optimis desanya akan berkembang menjadi sentra batik dengan bahan pewarna alam.  "Alhamdulilah Singolatren salah satu yang mengawali batik tulis. Selama ini orang Banyuwangi biasa cuma menutup/memblok warna.  Harapannya perekonomian membaik, untuk pariwisata ada positifnya menunjang ekonomi masyarakat kalau Banyuwangi makin pesat," katanya bangga.
(ams/ega/detiknews)(rzl)