Seblang Bakungan, Tradisi Unik Suku Using

 

19-09-2016 | Oleh : Sekretariat

BANYUWANGI - Banyuwangi kembali menggelar Tradisi Adat Suku Using. Selain Tumpeng Sewu, kini Banyuwangi, tepatnya di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah menggelar ritual adat yang tidak kalah uniknya yaitu Seblang Bakungan.

Tradisi yang digelar Minggu (18/9) malam ini mempunyai keunikan tersendiri. Penari yang melakukan tarian ini yaitu wanita berusia lanjut dalam keadaan kesurupan atau kemasukan roh. Seblang tahun  ini ditarikan oleh Supani (63). Supani adalah seorang wanita tua keturunan Seblang yang telah menari ritual seblang selama tiga tahun berturut-turut. Dia juga merupakan keturunan Seblang Misna yang telah pensiun dari Seblang 13 tahun yang lalu menari selama semalam penuh dengan gending lagu-lagu yang penuh dengan mantra.

Tujuan Tradisi Seblang Bakungan ini kata Yusuf Widiatmoko, Wabup, adalah untuk bersyukur kepada Allah dan memohon agar seluruh warga desa diberi ketenangan, kedamaian, keamanan dan kemudahan dalam mendapatkan rezeki yang halal serta dijauhkan dari segala mara bahaya

Ritual dimulai selepas maghrib dengan mematikan lampu dan sholat bersama di masjid desa. Kemudian masyarakat parade sambil membawa obor berkeliling desa (ider bumi) sambil bersholawat dilanjutkan makan bersama di sepanjang jalan desa menuju Balai Desa Bakungan. Jalan di depan Balai Desa Bakungan menjadi panggung yang digunakan untuk menari. Para penonton pun berebut mengelilingi jalan untuk melihat tari Seblang dari dekat.

Sebelum menari, Mbah Supani minta supaya ada pertunjukan ayam adu kemudian ada beberapa permintaan seperti Lurah Bakungan diminta memberi sambutan dan bersalaman dengan Wakil Bupati Yusuf Widiatmoko. Setelah permintaan itu dituruti, tak berselang lama gendhing Seblang Lukinta dimainkan dan menjadi tanda tarian dimulai. Gendhing Seblang Lukinta sendiri mengisahkan tentang perjuangan masyarakat Banyuwangi melawan penjajah.

Tak heran ketika menari ada adegan Mbah Supani menggendong boneka yang menggambarkan sosok seorang ibu yang menggendong anaknya dan mengajak penonton menari menjadi sapi pembajak sawah. Simbol ini masyarakat menyiratkan masyarakat Banyuwangi sebagai masyarakat agraris.

Saat menari Mbah Supani ditemani oleh dua penari. Mereka menjaga gerakan Mbah Supani agar tetap berada di area yang tersedia.Ketika menari, beberapa kali Mbah Supani yang dalam keadaan kesurupan itu sempat lunglai. Setelah ditiupkan asap kemenyan yang dibawa oleh sang pawang Mbah Supani langsung kuat berdiri dan menari lagi.

Saat yang paling dinanti penonton adalah saat sang penari menjual bunga. Bunga ini langsung laris diserbu penonton karena dipercaya membawa berkah, enteng jodoh dan rejeki.

Sepanjang acara masyarakat berjubel dan berebut mengabadikan setiap kegiatan tradisi yang masuk dalam agenda Banyuwangi Festival 2016 itu. Tak sedikit pula yang melihat acara itu dari layar proyektor yang disediakan panitia. 

Sebelum acara dimulai Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas sempat menyapa masyarakatnya melalui fasilitas FaceTime. Anas yang baru saja menyelesaikan ibadah haji itu meminta maaf belum bisa hadir dan berharap tradisi seblang di Bakungan agar tetap dilestarikan. Apalagi saat ini tradisi itu masuk dalam salah satu kegiatan Banyuwangi Festival.

"Hal ini atas usulan tokoh masyarakat dan sebagai penghargaan pemerintah daerah terhadap kebudayaan daerah. Diharapkan semakin menambah khazanah kebudayaan yang ada di Banyuwangi," ujarnya. (r_ta/19092016)(detik.com)