Menilik Tradisi Kebo-Keboan, Warisan Leluhur Alasmalang Berusia 300 Tahun

 

03-10-2016 | Oleh : Sekretariat

Banyuwangi - Ribuan masyarakat Banyuwangi memadati Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi. Mereka ingin melihat langsung ritual yang berumur sekitar 300 tahun, yakni ritual adat "Kebo-Keboan". Tradisi unik yang selalu digelar setiap awal Bulan Suro penanggalan Jawa ini, merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah, Minggu (2/10/2016).

Bukan kerbau asli yang diarak dalam ritual ini. Tapi manusia yang berdandan kerbau dengan cat hitam disekujur tubuh yang diarak bersama dengan kesenian-kesenian lain khas Banyuwangi. Tak hanya itu, di kepalanya juga mengenakan asesoris berbentuk tanduk dan gelang kerincing di tangan dan kakinya. Persis Kerbau.

Acara diawali dengan syukuran dan makan bersama di persimpangan jalan desa. Selanjutnya, dipimpin seorang tokoh adat setempat, 30 manusia kerbau diarak mengelilingi empat penjuru desa dengan iringan musik khas Suku Using. Prosesi ini disebut Ider Bumi.
 

Para petani yang didandani layaknya kerbau tersebut sebagian ada yang diyakini kerasukan roh gaib. Mereka berjalan seperti kerbau yang sedang membajak sawah. Mereka juga berkubang, bergumul di lumpur, dan bergulung-gulung di sepanjang jalan yang dilewati. Saat berjalan pun di pundak mereka terpasang peralatan membajak.


Ritual ini diakhiri dengan prosesi membajak sawah dan menabur benih padi oleh kerbau-kebauan. Dalam prosesnya benih padi yang nantinya ditabur oleh Dewi Sri ini akan banyak diperebutkan warga, karena diyakini bibitnya akan menghasilkan hasil panen yang lebih berlimpah.

"Sejarah adanya Kebo-Keboan itu konon satu Desa Alasmalang dilanda wabah penyakit, lalu Buyut Karti mendapat wangsit untuk menggelar selamatan bersih desa. Selain juga adanya "petunjuk" menggelar adat kebo-keboan, dimana petani menjelma menjadi kerbau," kata Indra Gunawan, ketua penyelenggara kegiatan tersebut, saat berbincang dengan detikcom.

Salah satu warga yang ikut berebut benih padi, Yadi (45) mengatakan dirinya sudah tiga kali ini ikut prosesi rebutan benih. "Jangan minta, tapi harus berusaha untuk mendapatkan benihnya. Katanya benih yang didapat dengan kerja keras di prosesi ini, kalau ditaman bisa subur dan panennya banyak. Alhamdulillah, dengan izin Gusti Allah padi saya bagus dan panennya juga banyak," kata Sukino.


Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar mengatakan, tradisi kebo-keboan Alasmalang menjadi salah satu kearifan lokal yang menguatkan kebudayaan Banyuwangi. Tradisi ini dikemas dalam rangkaian agenda Banyuwangi Festival bukan sekedar untuk mengusung tradisi desa ke kota, melainkan bagaimana tradisi ini bisa menjadi instrumen pengungkit perekonomian warga.

"Dengan kemasan acara yang berkelas, tradisi ini akan banyak mengundang warga datang ke desa ini. Tak hanya dari Banyuwangi tapi juga wisatawan dari luar daerah. Dengan demikian, kegiatan ini akan berdampak pada perekonomian warga setempat. Saat banyak pengunjung, warga bisa berjualan makanan, minuman atau produk UMKM khas Banyuwangi," kata Bupati Anas.

Tak hanya itu, Bupati juga berpesan, agar masyarakat Banyuwangi tetap menjaga kekompakan untuk membangun Banyuwangi yang lebih maju. "Terima kasih, berkat kekompakan dan semangat gotong royong seluruh masyarakat Banyuwangi, kita bisa meraih banyak prestasi. Ini semua berkat doa panjenengan semua, mudah-mudahan semangat kebersamaan ini tetap dijaga," imbuh dia. 
(bdh/bdh)(detikNews)