Warga Usung Tumpeng Raksasa

 

14-10-2016 | Oleh : Sekretariat

GAMBIRAN – Warga Desa/Kecamatan Gambiran menggelar ruwatan di desanya kemarin (12/10). Dalam acara itu, mereka mengarak tumpeng raksasa dan hasil bumi dengan keliling desa.  Perjalanannya itu, berakhir di Jembatan Wiroguno yang dibuat pusat selamatan.

Dalam acara itu semua perangkat desa ikut turun jalan. Mereka mengarak hasil bumi yang dikemas dalam tumpeng. Tujuh perempuan membawa kendi, kain tiga warna, dan sesaji seperti ayam dan gunungan wayang. Arak-  arakan itu dimulai dari rumah kepala desa menuju kantor desa.

Setiba di kantor desa, salah satu tumpeng dibuka  dan didoakan, kemudian dibawa lagi  menuju lokasi ruwatan di sebelah timur Jembatan Wiroguno. Salah satu pimpinan ruwatan, Ki Gunawan, mengatakan sebelum prosesi selamatan desa atau bersih desa itu  dilakukan dengan wayangan, mereka mengarak hasil bumi yang diusung warga dan tujuh bidadari.

“Semua hasil bumi dan barang yang dibawa para bidadari itu merupakan symbol,” katanya. Tiga warna yang dibawa para bidadari,  yakni putih, merah, dan hitam, terang dia, itu bermakna kesucian, keberanian, dan jagat. “Hitam itu bermakna jagat,  arti kecil dari jagat itu ya desa,”  ungkapnya pada wartawan Jawa Pos  Radar Genteng.

Untuk kendi yang ditutup kencur dan  laos, terang dia, itu simbol sapto pratolo, yakni semua umat manusia itu pada akhirnya akan mati dan meninggalkan dunia. Untuk itu, selama hidup di dunia agar berbuat baik dan meninggalkan sesuatu yang kurang baik.

“Saptopratolo itu maksudnya manusia itu tidak ada yang bertahan,” sebutnya. Mengenai kencur dan laos, Ki  Gunawan menyebut itu sebagai lambang tolak bala yang melindungi seluruh warga dan desa. “Ritual  ruwatan ini mengacu pada konsep adat Jawa yang dipadukan dengan Islam,” jelasnya.

Kepala Desa (Kades) Gambiran,  Eko Hadi Riyanto, mengatakan tradisi bersih desa atau ruwatan yang digelar ini kali pertama setelah  sekian lama tidak dila kukan di lokasi yang kini menjadi jembatan.“Lama tidak diadakan di sini (Jembatan Wiroguno), dulu bersih desa ya di sini, di lokasi yang sekarang jadi Puskesmas,” ungkapnya.

Sebelum ada kantor desa, terang dia, warga di Desa Gambiran itu setiap tahun mengadakan syukuran dan ruwatan di lokasi Jembatan Wiroguno. Setelah kantor desa dibangun, tradisi itu diganti. “Ruwatan digelar di kantor desa,” katanya.

Kades mengaku kalau tahun ini ruwatan dikembalikan di tempat semula. Itu semua dilakukan demi mengembalikan tradisi. Di samping itu, keberadaan Jembatan Wiroguno juga menjadi salah satu akses vital bagi masyarakat. “Sudah lama ruwatan tidak di jembatan,” ujarnya. (radar)(r_ta/14102016)