Melihat Petik Laut Muncar, Cara Nelayan Muncar Banyuwangi Mengucap Syukur

 

17-10-2016 | Oleh : Sekretariat

Banyuwangi - Nelayan di Desa Muncar, Kabupaten Banyuwangi punya cara unik mengucap syukur atas rezeki yang didapat dari laut. Setiap tahun para nelayan setempat melaksanakan acara adat Petik Laut Muncar. 

Petik Laut ini adalah warisan leluhur yang disebut sebagai sedekah masyarakat terhadap laut yang selama satu tahun menjadi tempat mereka mengais rezeki. Tradisi yang mulai digelar sejak tahun 1901 ini selalu diadakan pada tanggal 15 Muharam bertepatan dengan pasang air laut. 

"Ini sebagai ungkapan rasa syukur para nelayan atas hasil tangkapan ikan yang melimpah. Sekaligus ritual tolak bala. Memohon keselamatan agar terhindar dari bahaya saat berlayar mengarungi lautan. Makanya, tak sekalipun kami melewatkan tradisi ini karena takut mengalami musibah," kata ketua penyelenggara Petik Laut Muncar, HM Hasan Basri di Banyuwangi, Minggu (16/10/2016). 

Petik Muncar diawali dengan mengarak sesaji keliling kampung, masyarakat menyebutnya 'ider bumi' dan tirakatan serta pengajian. Sesajian itu yang nantinya akan dilepaskan oleh iringan kapal di tengah laut. 

"Tradisi ini diawali dengan mengarak sesaji dari rumah sesepuh menuju TPI Muncar untuk dilarung ke tengah segara. Sesaji yang terdiri dari kepala kambing, berbagai macam kue, buah- buahan, pancing emas, candu dan dua ekor ayam jantan yang masih hidup ini ditata apik dalam sebuah replika perahu nelayan," ungkap Hasan. 

"Perahu kecil ini berukuran 5 meter dengan warna serta ornamen umbul-umbul, persis perahu yang digunakan nelayan saat melaut. Inilah yang disebut Gitik," tambahnya. 

Setibanya di lokasi, lanjut Hasan, sesaji disambut enam penari gandrung yang kemudian membawa sesaji itu ke atas kapal. Saat itu lah, warga berebut naik kapal pengangkut sesaji karena meyakini bisa 'tertular' berkah.

Perjalanan selama satu jam ditempuh kapal-kapal dan diiringi musik-musik dari kapal. Masyarakat tampak antusias berjoged dan selfie ria dari atas kapal di tengah laut lepas. 
 

Kapal-kapal itu kemudian berhenti di lokasi yang berair tenang, dekat semenanjung Sebulungan. Di sini ritual pelepasan sesaji yang dipimpin sesepuh nelayan dilakukan.

Teriakan syukur sontak menggema saat sesaji jatuh dan tenggelam ditelan ombak. Beberapa nelayan bergegas menceburkan diri ke laut berebut mendapatkan sesaji. Sesekali mereka juga terlihat menyiramkan air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu.

"Kami percaya air ini menjadi pembersih malapetaka dan diberkati ketika melaut nanti," kata seorang nelayan, Asnawi. 
 
Usai kemeriahan itu, perjalanan dilanjutkan menuju Sembulungan, sebuah semenanjung kecil di tengah perairan laut Muncar. Di tempat ini, nelayan kembali melarung sesaji untuk ke dua kalinya. 

"Jumlah sesajinya lebih sedikit. Konon, ini memberikan persembahan bagi penunggu tanjung Sembulungan," ungkap Asnawi. 

Ritual dilanjutkan tabur bunga ke Makam Sayid Yusuf yang ada di semenanjung itu, kemudian diakhiri dengan selamatan dan doa bersama. Sayid Yusuf adalah orang pertama yang membuka lokasi Tanjung Sembulungan.

Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko saat menghadiri pesta rakyat ini mengatakan, pemkab konsisten mengangkat kearifan budaya lokal yang ada di tengah masyarakat. Salah satunya, dengan mengemas tradisi tersebut menjadi bagian dalam agenda wisata tahunan Banyuwangi Festival.

"Ini bentuk intervensi Pemda untuk mengenalkan budaya asli Banyuwangi kepada masyarakat global. Dengan membranding tradisi ini dalam kemasan festival, kita berharap tradisi ini akan terus hidup dan menjadi daya tarik yang mampu mengerek kunjungan wisatawan," ujar Wabup Yusuf.

Selain itu, dalam kesempatan itu Yusuf juga mengajak masyarakat Muncar untuk menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan. "Kami berharap masyarakat di sini selalu menjaga kebersihan pantai dan laut agar ikannya semakin berlimpah. Sehingga kesejahteraan warga juga semakin meningkat," ujarnya. (detik.com)(kst/slh)(r_ta/17102016)