Banyuwangi Ethno Carnival, Ajang Budaya Pengungkit Ekonomi Rakyat

 

14-11-2016 | Oleh : Sekretariat

BANYUWANGI - Perhelatan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2016 berlangsung dengan spektakuler, Sabtu (12/11). Karnaval busana megah yang berakar budaya lokal ini mampu memberikan pertunjukan yang sangat berkesan dan mampu menggerakkan ekonomi rakyat. BEC adalah satu di antara 53 atraksi pariwisata yang digelar Banyuwangi selama 2016 dengan tajuk "Banyuwangi Festival".

BEC selalu menghadirkan tema yang tak pernah lepas dari budaya dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Tahun ini temanya adalah "The Legend of Sritanjung Sidopekso" yang mengangkat legenda rakyat yang menceritakan asal usul nama Banyuwangi. Banyuwangi Ethno Carnival merupakan event budaya yang melibatkan segenap masyarakat dalam penyelenggaraannya. Budaya lokal menjadi pakem yang tidak boleh ditinggalkan dalam menentukan temanya. Seniman dan budayawan Banyuwangi berperan utama dalam setiap pemilihan tema," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat membuka BEC 2016. Anas menyebut, BEC mempunyai tiga tujuan. Pertama, ini adalah upaya mengenalkan budaya lokal ke publik global. "Kita ingin Menumbuhkan rasa cinta pada budaya lokal , ujarnya. Kedua, event pariwisata ini adalah ruang untuk mengapresiasi anak-anak Banyuwangi yang bergiat di bidang seni-budaya. "Salah satu problem pengembangan seni-budaya kita selama ini adalah minim apresiasi. Latihan terus tapi tidak ditonton ribuan orang. Dengan event ini, apresiasi dilakukan sekaligus bagian dari regenerasi pencinta seni-budaya," ujar Anas.

Ketiga, sambung Anas, menggerakkan ekonomi masyarakat. "Hotel penuh, kuliner laris, oleh-oleh ludes, jasa-jasa penunjang bergerak seperti jasa transportasi, pemandu wisata dan lain-lain," papar Anas. Ini adalah pesta rakyat Tujuan utama dari berbagai event pariwisata yang kami gelar adalah untuk menggerakkan ekonomi rakyat. Di setiap festival, kami membebaskan trotoar di sekitar lokasi untuk berjualan UMKM karena ini adalah pesta mereka. Kedepannya kami akan terus menguatkan pariwisata daerah, salah satunya menambah infrastruktur wisata. Tahun depan akan ada 5 hotel bintang yang beroperasi di Banyuwangi. Akhir tahun ini juga akan ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Banyuwangi," imbuh Anas. Sementara itu, sebanyak 160 peserta BEC memberikan penampilan yang luar biasa. Mereka merupakan anak anak muda Banyuwangi yang penuh dengan ide dan kreativitas tanpa kehilangan semangat tradisi dalam menuangkan segenap potensinya. Anak anak ini tidak hanya menampilkan desain pakaian yang kreatif, namun sebagai garda terdepan menyampaikan pesan budaya dan sejarah. Dari Banyuwangi untuk dunia," cetus Anas. Karnaval yang mengisahkan asal mula berdirinya Banyuwangi ini juga diikuti oleh 40 wisatawan mancanegara yang ikut berparade. Di antaranya berasal dari Rusia, Belarusia, Amerika Serikat, Perancis, dan Italia. Mereka berpakaian layaknya penari Gandrung dan ikut  berjalan menyapa masyarakat Banyuwangi. Para wisatawan itu kebetulan sedang berlibur di Banyuwangi lalu ditawari untuk ikut tampil dan mereka menyambut antusias. Ini pertama kalinya saya berlibur di Banyuwangi dan langsung terlibat di acara yang unik ini, sangat menyenangkan sekali kata Dzmitry Magvay Nedashkouskiy dari Republik Belarusia yang sedang berlibur di Banyuwangi. BEC ini dihadiri sejumlah tokoh penting. Antara lain Bupati Raja Ampat Papua, Bupati Bandung Barat, dan Konsulat Jenderal Jepang Yoshiharu Kato. Bahkan Konjen Jepang mengatakan sangat terkesan dengan parade kostum etnik kontemporer ini. Kostumnya bagus. Saya benar-benar kagum, kata dia (Humas)