Banyuwangi Gelar Festival Perahu Layar di Selat Bali

 

01-12-2016 | Oleh : Sekretariat

BANYUWANGI –  Memiliki garis pantai terpanjang di Pulau Jawa, Banyuwangi memiliki beberapa Festival yang mengangkat tradisi maritim masyarakatnya. Kali ini Banyuwangi menggelar Festival Perahu Layar. Festival ini diikuti puluhan perahu nelayan yang berlangsung di Selat Bali tepatnya Pantai Waru Doyong, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Rabu (30/11).

Puluhan perahu nelayan dengan layar terkembang saling beradu cepat di laut selat Bali. Arus air dan tiupan angin menjadi penunjuk arah andalan nelayan untuk menentukan laju perahu. Terik panas tak menyurutkan mereka untuk mendayung perahu hingga menjadi yang tercepat.

Ketua Nelayan Bulusan, Sujarno mengatakan Lomba Perahu Layar menjadi salah satu even yang diselenggarakan rutin setiap tahun oleh para nelayan setempat. Kegiatan yang pertama kalinya masuk agenda Banyuwangi Festival ini merupakan bagian dari Tradisi Petik Laut Rabo Pungkasan warga Desa Bulusan.

“Tradisi ini setiap tahun dilaksanakan pada hari Rabo akhir dibulan Shafar. Rabo pungkasan ini diyakini sebagai hari turunnya 320 bala atau bencana karena itu dilakukan petik laut untuk mengungkapkan rasa syukur pada Allah SWT dan memohon agar di hari-hari berikutnya hasil laut dan bumi masih dapat dinikmati serta terhindar dari segala macam bala bencana,” beber Sujarno.

Pada ritual petik laut tersebut, warga juga melakukan larung sesaji hasil bumi. Kemudian setelahnya dilanjutkan dengan Lomba Perahu Layar. Lomba ini mulai dijadikan bagian dari tradisi pada tahun 2000. Untuk kali ini, Pesertanya sebanyak 70 orang yang merupakan nelayan pancing Banyuwangi dan Bali yang sama-sama mencari ikan di selat Bali.

“Even Lomba Perahu Layar ini sebagai cara untuk mempererat tali persaudaran di antara sesama nelayan,” ujar Sujarno.

Pada lomba ini ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh nelayan untuk menjadi peserta. Yakni perahu yang digunakan tanpa mesin, hanya menggunakan layar dengan ketinggian layar 7,3 meter. Lomba dimulai dari Pantai Waru Doyong hingga mencapai Pantai Gilimanuk lalu kembali lagi menuju Pantai Waru Doyong.

“Jarak tempuhnya kira-kira 8 mil. Siapa yang paling cepat sampai kembali di Pantai Waru Doyong dia yang akan jadi pemenangnya dan berhak atas piala bergilir dan hadiah uang tunai,” cetus Sujarno.

Salah satu peserta Festival Perahu Layar adalah Sutrisno (48), nelayan asal Jembrana ini antusias mengikuti Festival Perahu Layar. Baginya lomba ini menjadi salah satu acara yang tidak boleh dilewatkan. Sutrisno sendiri tidak pernah absen mengikuti lomba perahu layar setiap tahunnya.

“Kegiatan ini jadi hiburan buat kami nelayan. Lebih baik libur dulu mencari ikannya dan ikut lomba ini, refreshing,” ujar Sutrisno.

Selain jadi ajang refreshing lomba Perahu Layar juga jadi ajang silaturahim diantara para nelayan. Karena biasanya para nelayan Bali dan Banyuwangi sama-sama mencari ikan di laut Selat Bali tapi jarang bertegur sapa.

“Ya kalau dilaut biasanya Cuma saling melambaikan tangan aja, kalau disini kan bisa ketemu salaman dan saling ngobrol,” ujarnya.

Selain Sutrisno juga ada Matrasul (39), Nelayan dari Gilimanuk ini menjadi pemenang lomba perahu nelayan pada tahun lalu. Kali ini, dia pun masih bersemangat untuk memenagkan perlombaan ini kembali.

“Saya akan berusaha yang terbaik untuk bisa menang lagi. Yang paling penting tahu triknya, seperti tahu arah angin dan arah arus air agar perahu bisa melaju cepat dan tidak hanyut. Kecepatan mendayung juga jadi kunci memenangkan lomba ini,” kata Matrasul.

Sementara itu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pemerintah daerah mengangkat tradisi masyarakat nelayan Bulusan kedalam Banyuwangi Festival sebagai cara untuk mempromosikan potensi desa-desa di Banyuwangi.

“Desa kini telah menjadi frontline pembangunan daerah, maka segenap potensi yang mampu memajukan desa akan kita promosikan. Tadisi nelayan Bulusan ini sangat unik dan menjanjikan untuk dapat menarik wisatawan, ” ujar Anas. (Humas)