Cara Pemkab Banyuwangi Lindungi Homestay

Seiring perkembangan pariwisata, tren wisatawan lebih memilih homestay semakin bertambah. Selain lebih dekat dengan objek wisata, wisatawan memilih homestay karena ingin menikmati aktivitas masyarakat di daerah tersebut.

Di Banyuwangi, homestay tumbuh begitu pesat. Dari data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbupar) Banyuwangi saat ini terdapat sekitar 200 homestay. Jumlah ini diperkirakan terus tumbuh. 

Untuk terus melindungi pertumbuhan dan pengembangan homestay, Pemkab Banyuwangi melarang pembangunan hotel di sekitar objek-objek wisata. 

"Kami melarang adanya pembangunan hotel di sekitar destinasi wisata. Regulasi ini yang turut membuat homestay tumbuh di Banyuwangi. Banyak rumah-rumah warga di objek wisata, yang kini menjadi homestay," kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, kepada detikcom, Senin (23/1/2017). 

Bupati Anas menambahkan, peraturan ini tertuang dalam regulasi tata ruang dan wilayah (RT/RW) Banyuwangi, pemkab turut mendorong perkembangan homestay karena bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Ini bukti jika pariwisata bisa mensejahterakan masyarakat. Mereka yang punya homestay bisa dapat Rp 10 juta per bulan. Kami akan lindungi mereka," tambahnya. 

Tak hanya itu, untuk menunjang pengembangan dan pertumbuhan homestay, Pemkab juga bekerja sama dengan perbankan, melalui kredit lunak untuk homestay, dengan uang muka ringan hanya satu persen dan bunga di bawah lima persen. 

"Bersama Bank BTN, pemerintah telah bekerja sama untuk pemberian kredit lunak untuk homestay. Targetnya bisa ada seribu homestay di Banyuwangi," kata Anas. 

Selain itu, Banyuwangi juga mendorong pemasaran dari offline menuju online. Bahkan telah banyak homestay di Banyuwangi, yang telah masuk ke situs transaksi digital. 
(fat/fat) source : detik.com

  • BAGIKAN :