Jenazah Angeline Langsung Dimakamkan

[BANYUWANGI] Angeline (8) bocah cantik yang ditemukan tewas terbunuh dan dikubur secara tidak layak di bawah kandang ayam rumah ibu angkatnya Telly Margaretha Megawe (60) di Jalan Sedap Malam, Denpasar, Bali, akhirnya dimakamkan sebagaimana mestinya di tanah makam leluhurnya di Dusun Wadungpal, Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jatim, Selasa (16/6) malam.

Prosesi ritual pemakaman yang berlangsung sejak pukul 20.15 WIB yang diikuti lebih dari 1.000 pelayat, di antaranya Mensos Khofifah Indar Parawansa, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas beserta isteri, Kapolres Banyuwangi AKBP Bastoni Purnama serta pejabat teras Banyuwangi lainnya, baru usai pukul 21.10 WIB.

Angeline akhirnya terbaring selamanya di tanah kelahiran ibundanya, Nyonya Hamidah (28). Di atas pusara, tempat peristirahatan terakhir Angeline yang sangat sederhana itu, tampak berhiaskan taburan aneka bunga dan aneka mainan anak-anak.

Sebuah foto dipasang di sebelah nisannya bagian utara dan bertuliskan, Pray for Angeline and Get Justice! Juga sebuah gitar warna putih dan balon aneka warna yang menjadi simbol mainan kegemaran almarhumah, ikut menemani tidur panjang si gadis malang, Angeline.

Mensos Khofifah dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas beserta para pejabat teras yang ikut hadir, tidak kuasa menahan haru ketika mengantarkan Angeline hingga ke liang lahat.

“Saya speechless,” ujar Khofifah pelan ketika baru duduk di teras musala Al-Hidayah di dekat rumah nenek Angeline, Nyonya Mistiya.

Setelah menghela nafas panjang, Khofifah baru bicara panjang lebar tentang kasus kekerasan pada anak di tengah-tengah masyarakat.

Khofifah mengambil contoh sejumlah kasus kekerasan anak di Indonesia. Karena itu, ia meminta penegak hukum menerapkan hukuman maksimal bagi pelaku kekerasan.

Penelantar anak itu hukumannya lima tahun dan denda Rp 100 juta. Orang yang melihat penelantaran tetapi tidak melapor juga bisa kena.

“Jadi terapkan hukuman maksimal agar pelaku jera, termasuk dalam kasus Angeline,” tandas Mensos.

Kementerian Sosial dan Kementerian Perempuan dan Anak juga mendesak agar ada hukuman berat yang membuat efek jera terhadap pelaku kekerasan dan penelantar anak, kata Mensos Khofifah sambil mengingatkan, hendaknya kasus Angeline menjadi bahan instropeksi teerhadap regulasi tentang kekerasan terhadap anak.

Ia juga mendesak agar kasus pemalsuan proses adopsi tidak terjadi. Menurutnya adopsi Angeline tidak sah karena tidak melalui proses pengadilan.

Menurut dia, sistem adopsi sudah detail dan ketat di Indonesia, tetapi prosedur ini tidak banyak diketahui masyarakat. Sehingga sosialisasi tentang adopsi harus disosialisasikan hingga tingkat RT dan RW. Mensos yang keluarganya tinggal di Surabaya itu sangat menyayangkan adopsi Angeline bisa lolos hingga akhirnya berakhir dengan kematian yang tragis.

Sementara itu, Bupati Abdullah Azwar Anas dan istri saat menunggu kedatangan jenazah mengatakan, dalam waktu dekat Pemkab akan membantu pemulihan psikologi keluarga.

"Nanti kita bantu dulu recovery psikis keluarga, seperti kepada si ibu kandungnya dan juga keluarga besar lainnya,” ujar Azwar Anas yang ikut tahlilan malam itu yang memasuki hari kelima. [ARS/L-8](rzl_170615)

 

 

  • BAGIKAN :