BERITA

Home Berita

Kades dan Pemilik Homestay Pelatihan Pemasaran Online

images

24-01-2017

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar pelatihan Kapasitas Usaha Masyarakat Destinasi Pariwisata, Homestay dan Go Digital, Senin (23/1/2017).

Pelatihan yang diikuti pemilik homestay, kepala desa dan penggiat wisata ini untuk memberikan daya jual homestay di Banyuwangi. Pelatihan ini meliputi tentang pemberdayaan homestay berstandar internasional dan pemasaran homestay secara online. 

Pemerintah saat ini tengah mengembangkan homestay berbasis desa wisata. Terdapat 74.954 desa di Indonesia yang memiliki potensi atraksi desa wisata. Mulai dari desa wisata bahari, desa wisata sungai, desa wisata irigasi, dan desa wisata danau. 

Homestay masuk dalam urutan kedua dari 10 prioritas Kemenpar. Pertama e-tourism, kedua homestay, airlines, branding, top-10 originasi, top destinasi utama (destinasi branding), pengembangan 10 destinasi pariwisata prioritas, sertifikasi kompetensi SDM dan gerakan sadar wisata, peningkatan investasi pariwisata dan pengelolaan crisis centre. 

"Kami terus mendorong, agar pemerintah daerah bisa meningkatkan homestay. Ini merupakan pasar yang potensial," kata Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Oneng Setya Harini usai membuka acara di Hotel Ketapang Indah. 

Menurut Oneng, ketertarikan pengunjung terhadap homestay akan naik dari 10 persen di 2016 menjadi 15 persen di 2020, di kota-kota besar dunia. Dari 2 persen di 2016, menjadi 5 persen di 2020 di Asia Tenggara. Karena itu, homestay kini tidak bisa dianggap remeh. 

Namun menurut Oneng, homestay harus memiliki karakter dan kriteria. Terutama homestay harus memiliki atraksi wisata. Memiliki daya tarik wisata khususnya wisata budaya, dengan mengangkat kembali arsitektur tradisional nusantara. Lokasinya berada di desa wisata sehingga masyarakat dapat berinteraksi dengan masyarakat lokal. 

"Yang penting lagi, menjadi tempat tinggal yang aman bersih dan nyaman bagi wisatawan, dengan pengelolaan homestay berstandar internasional," kata Oneng. 

Oneng mengaku keunggulan homestay dibandingkan hotel, proses pembangunannya yang lebih cepat. Lama pembangunan homestay sekitar enam bulan, sedangkan hotel bisa sampai lima tahun. Homesyat low cost tourism, sedangkan hotel high cos tourism.

Namun Oneng mengingatkan hal yang terpenting adalah pemasaran. Saat ini Kemenpar telah bekerja sama dengan Telkom, untuk pemasaran digital melalui aplikasi Indonesia Tourism Exchange (ITX). 

Dalam ITX ini terdapat fitur penyedia produk wisata. Seperti pemesanan pesawat, hotel, restaurant, persewaan mobil, pertunjukan, paket tur, serta portal informasi seperti rumah sakit, atraksi, event, kantor polisi dan lainnya. 

"Untuk pemasaran kami telah bekerja sama dengan Telkom, melalui aplikasi ITX," kata Oneng. 

Oneng menjelaskan, industri pariwisata berbasis digital ini berfungsi untuk meningkatkan revenue industri pariwisata, dengan memperluas jaringan distribusi International. Meningkatkan customer experience melalui pemesanan dengan mudah, cepat, aman, terpecaya. 

Selain itu, juga untuk mengefisiensi operation perusahaan pariwisata melalui booking system, yang terintegrasi secara online ke distribution channel.

"Kami harap pelaku pariwisata di Banyuwangi bisa meningkatkan ini. Apalagi target kunjungan wisatawan ke Jawa Timur pada tahun ini, 649.000 wisatawan mancanegara, dan 54 juta wisatawan nusantara," tandas Oneng. 
(fat/fat) source : detik.com