BERITA

Home Berita

Luhut : Banyuwangi Ethno Carnival Layak Ditawarkan Pada Dunia

images

30-07-2018

Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan memuji Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2018. Menurutnya, event yang sudah 7 tahun ini layak didorong menjadi event dunia. 

Bukan tanpa alasan, menurut Luhut, konsep yang ditawarkan spektakuler. Kemasan penyelenggaraannya unik dan menarik. Banyuwangi yang berjuluk The Sunrise of Java juga didukung aksesibilitas dan amenitas terbaik.

"BEC ini event yang besar. Upaya mengembangkan event ini menjadi lebih besar harus dilakukan. Sebab, saat ini progress pariwisata sangat bagus. Tahun 2017, pariwisata menyumbang devisa USD 12,5 Milyar. Jumlah kunjungan wisman naik signifikan. Kontribusinya berpengaruh besar pada neraca berjalan," kata ungkap Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan kepada detikTravel, Minggu (29/7/2018).

Penyelenggaraan BEC ke-8 digelar kolosal dengan melibatkan berbagai latar belakang. Ada 11 panggung dengan 10 tema berbeda, sepanjang rute karnaval pun dipenuhi puluhan ribu wisatawan. Mereka datang dari berbagai daerah di Jawa Timur. Sebagian bahkan datang dari Bali. 

Wismannya juga ada. Maklum, BEC dipilih sebagai free open trip oleh 35 wisman dari 16 negara. 

Pelaksanaan event juga disuguhkan spektakuler. BEC ini diawali dengan berbagai live music. Duet Fitri Carlina dan Danang D'Academy Asia (DA) juga ikut menaikan gegap gempita melalui beberapa lagu, seperti Serasa yang dipopulerkan Chrisye. Usai opening ceremony, pesta pun dilanjutkan kembali. Fragmen 'Puter Kayun' pun disajian secara kolosal karena melibatkan 100 seniman Banyuwangi. 

"Kami sangat terkesan dengan semua potensi yang ada di Banyuwangi. Culture di sini sangat kuat. Ini menjadi atraksi yang luar biasa,: papar Luhut lagi.

Kostum yang dibawakan menjadi representasi kekayaan nature dan culture milik The Sunrise of Java. Detailnya terlihat unik. Kaya warna. Artistik. Tak kalah dengan kostum Jember Fashion Carnaval yang sudah mendunia. 

Nuansa Banyuwanginya jangan ditanya lagi. Ukiran, bentuk, desain, sampai warna, semua representasi dari tema 'Puter Kayun'. Event ini juga menyajikan kostum berupa kekayaan fauna Banyuwangi, seperti Burung Merak.

"Banyuwangi ini benar-benar menampilkan karya terbaik. Kami sangat gembira karena BEC tahun ini digelar sangat meriah. Melihat respon publik kepada BEC, Banyuwangi ini memang menjadi destinasi yang menjanjikan," terang Menpar Arief Yahya.

Seiring terbukanya pintu udara, jumlah kunjungan wisatawan di Banyuwangi naik signifikan. Semester pertama 2018, jumlah wisatawan naik signifikan 175.878 orang dari periode sama di tahun lalu. Angka riilnya 2.589.587 wisatawan. Rinciannya, kunjungan wisman surplus 2.913 orang dengan jumlah baku 51.755 nama. Untuk wisnus, kenaikan sebanyak 172.965 orang hingga terakumulasi 2.537.832 nama.

"Kunjungan wisatawan di Banyuwangi selalu naik. Saat ini kenaikannya sangat kompetitif. Mereka ini nampaknya puas ketika berlibur ke Banyuwangi," jelas Menpar lagi.

Besarnya kenaikan jumlah kunjungan tidak lepas dari pengalaman yang mereka dapatkan. Berdasarkan hasil survey Charta Politica sebanyak 92,1% wisatawan mengaku senang berlibur ke Banyuwangi. Lalu, rinciannya sebanyak 23,5% mengaku sangat puas dan cukup puas 68,6% wisatawan. Rasa tidak puas hanya memiliki porsi 4,4%, lalu sisanya tidak menjawab.

"Melihat progress BEC seperti ini, mereka harus diapresiasi. Banyuwangi selalu menawarkan sesuatu yang baru. Kreativitas mereka luar biasa. Mungkin tahun depan sudah saatnya dibuka untuk content dan ide-ide yang lebih besar agar semakin mendunia," kata Deputi Bidang Pemasaran I Kemenpar I Gde Pitana.

Memiliki nilai psikologis tinggi dan konsep atraksi yang kuat, BEC juga ditopang aksesibilitas terbaik. The Sunrise of Java sangat nyaman didatangi melalui jalur udara. Pun demikian dengan jalur lautnya. Sebab, kawasan ini terkoneksi dengan Bali dan Lombok melalui Kapal Cepat Marina. Akses dalam kota juga ditopang angkutan pariwisata gratis dan sudah melayani sekitar 2.347 wisatawan.
 

"Event-event yang digelar oleh Banyuwangi selalu sukses, seperti BEC. Eventnya sangat bagus karena memang menjadi representasi dari kekuatan daerah. Dengan kekuatan dan potensi seperti ini, BEC masih bisa berkembang lebih besar," jelas Kepala Bidang Area Jawa Kemenpar Wawan Gunawan.

Untuk amenitas, Banyuwangi banyak memiliki fasilitas hotel berbintang. Pilihan lain berupa 274 homestay. Banyuwangi memiliki sedikitnya 17 desa sebagai pengembangan homestay. Antara lain, ada Bakungan, Gombengsari, Temenggungan, juga Kampunganyar. Selain itu, ada juga Banjar, Tamansari, Kandangan, Sumbersari, dan Kalipait.

"Kami sangat bangga karena pembangunan dengan pendekatan budaya seperti ini cepat menaikan kesejahteraan masyarakat. Pendapatan perkapita masyarakat saat ini Rp45 Juta per tahun. Untuk BEC, tema setiap tahun tema berubah yang hadirkan oleh masyarakat. BEC tidak memakai event organizer, tapi murni karya dari masyarakat Banyuwangi," tutup Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

source : detik.com