Muraqabah

SEORANG guru memanggil beberapa muridnya dan berkata, “Dalam kandang ada beberapa ekor ayam. Kamu semua ambillah tiap orang satu ekor, lalu sembelihlah di tempat yang tidak mungkin dilihat siapapun”.

Semua muridnya menurut dengan hati bertanya-tanya, untuk apa ayam-ayam itu dipotong dan mengapa harus dilakukan di tempat yang tersembunyi?

Setelah melaksanakan perintah sang guru, murid-murid itu kembali menghadap sang guru. Masing-masing membawa hasil sembelihannya, kecuali satu murid yang membawa ayam dalam keadaan utuh.

Lalu sang guru bertanya kepada satu murid tersebut, “Mengapa tak kaulakukan perintahku? Bukankah engkau kusuruh menyembelih ayam di tempat yang tidak diketahui siapapun? ”.

Murid itu menjawab, “Maaf guru yang bijak. Justru saya telah mematuhi perintah guru. Saya telah mencari-cari ke segala  penjuru, di rumah, di pantai, di hutan, di sawah, di lapangan dan sebagainya. Namun tidak sejengkalpun di dunia ini yang tersembunyi dari Allah. Karena itu, saya tidak berani menyembelihnya lantaran Allah pasti mengetahui perbuatan saya”.

Sang guru mengangguk-angguk gembira, sebab murid yang satu ini telah memahami makna muraqabah secara benar, sesuai dengan asal-usulnya yang berakar dari kata raqabah dan melahirkan nama raqib, julukan bagi malaikat yang mengawasi tindak-tanduk manusia. Maka dari itu muraqabah mengandung pengertian bahwa kewaspadaan Allah selalu melingkupi ulah makhluk-Nya.

Buat kaum awam, untuk mencapai muraqabah memang terlalu sulit, tetapi bukan mustahil apabila mau berikhtiar dengan ibadah yang ikhlas, terutama melalui puasa dalam bulan Ramadhan. Karena sebagaimana dikatakan Allah dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Rahimakumullah, “Semua amal anak Adam itu kembali kepada mereka sendiri, kecuali puasa. Maka sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang berhak membalasnya”.

Dalam hadis qudsi tersebut Allah meletakkan puasa berbeda dari ibadah lainnya. Sebab, tidak ada amal yang dapat disembunyikan kepada sesama manusia selain puasa saja. Ibadah lainnya seperti shalat, zakat dan ibadah haji orang lain dapat menyaksikan apakah ia melaksanakan atau tidak ?. Berbeda dengan puasa, hanya dirinya dan Allah yang tahu, benarkah ia menjalaninya ataukah tidak ?. Dengan kata lain, puasa melatih manusia agar menyadari keberadaan Allah begitu dekat dan melekat setiap saat.

Manfaatnya tentunya buat diri sendiri. Ia akan terjaga dari dosa lantaran pada hakikatnya ia tidak dapat berdusta kepada Allah yang senantiasa mengawasinya. Betapapun ia dapat mengelabui sesama manusia, ia tidak bisa bebas dari penglihatan Allah.

Maka dengan ibadah puasa yang dikerjakan secara taat tanpa ada yang mengancam atau menegur, manusia dibiasakan untuk menghindari maksiat meskipun tidak ada orang yang melihatnya. Kemanapun ia bersembunyi, jauh di dasar hatinya ia tahu bahwa dirinya sedang diawasi, tidak saja oleh malaikat pencatat amal, tetapi terutama oleh Allah Yang Maha Waspada. Karenanya para ahli tasawuf mengatakan, “Barangsiapa ber-muraqabah kepada Allah dalam kalbunya, Allah akan memelihara anggota badannya dari berbuat dosa”. (ilhamwahyudi/ndi_22/6/2015)

  • BAGIKAN :