Banyuwangi Berencana Bentuk Kawasan Wisata Perdesaan Berkonsep "Triangle Diamond"

Pemkab Banyuwangi, Jawa Timur berencana membangun kawasan wisata perdesaan dengan konsep Triangle Diamond. Tujuannya untuk memperkuat akar pariwisata di tingkat desa agar saling bersinergi.

Kepala BAPPEDA Banyuwangi ( DR. Suyanto Waspotondo W) melalui Kepala Bidang Kesra dan Pemerintahan Bappeda Banyuwangi, Dwi Marhen Yono, S.STP, M.Si mengatakan, Triangle Diamond Wisata Banyuwangi meliputi Kawah Ijen, Alas Purwo dan Sukomade.
"Kita tahu potensi unggulan Banyuwangi adalah Pariwisata, sehingga konsep ini ke depan bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," ungkap Marhen saat workshop pembangunan kawasan perdesaan Triangle Diamond Wisata Banyuwangi di Agrowisata Kebun Al-Qur'an Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Rabu (15/7/2020).
Agro Kaliploso , Kaliploso

Marhen mengatakan, dalam konsep pariwisata terintergrasi terpadu ini akan melibatkan beberapa desa dengan menonjolkan potensi masing-masing. Tujuannya agar tidak terjadi tumpang tindih.
"Sehingga rencana jangka pendek kami adalah membentuk desa-desa di sekitar tiga tempat wisata andalan tersebut agar bisa bersinergi," ujar Marhen.
Pemkab Banyuwangi sendiri sebelumnya sudah membentuk desa kawasan di sekitar wisata Gunung Ijen. Diharapkan dengan bergabungnya desa-desa menjadi satu kesatuan bisa lebih kuat dalam banyak hal.
"Pertama kemarin kita membentuk 14 desa kawasan di sekitar Gunung Ijen. Hari ini kita membentuk 10 desa kawasan di sekitar terdekat Alas Purwo dan minggu depan kita  akan membentuk 12 desa kawasan di sekitar Sukomade," imbuhnya.
Menurut Marhen, ketika desa-desa itu bergabung maka potensi desa itu akan saling melengkapi dan akan semakin kuat untuk menjaring wisatawan yang akan berkunjung ke Banyuwangi.

Arahnya nanti akan kita gabung dan bentuk BUMDesma atau Badan Usaha Milik Desa Bersama. Tidak hanya untuk hari ini saja, tapi bisa untuk tahun depan, dan selanjutnya untuk jangka panjang," terangnya.
Oleh sebab itu, Marhen juga menekankan terkait dengan konsep 3A dan 3K pada pariwisata yang memang harus terbentuk. Karena konsep 3A menjadi keniscayaan sebelum sebuah destinasi wisata diperkenalkan dan dijual kepada wisatawan.
"Aspek utama yang harus dikaji terlebih dahulu pada suatu destinasi adalah Konsep 3A yaitu attraction, amenity dan accessibility," paparnya 
A yang pertama adalah Attraction, yaitu atraksi produk utama yang berkaitan dengan sebuah kegiatan di destinasi. A yang kedua adalah accessibility, yaitu sarana dan prasarana seperti jalan, transportasi dan sebagainya untuk menuju tempat destinasi. 
"Dan A yang ketiga Amenity atau amenitas yaitu yang berkaitan dengan segala fasilitas pendukung seperti sarana akomodasi, homestay, restoran, warung makan dan minum, toilet umum, rest area, tempat parkir, dan yang terpenting adalah sarana ibadah yang bersih dan nyaman," jelas Marhen.

"Misal juga di Blimbingsari ada kuliner ikan bakar, di Muncar ada kepiting lalu ada petik buah naga dan buah serta lain sebagainya," tambahnya.
Sedangkan untuk 3K yang dimaksud oleh Marhen adalah terkait dengan Komitmen, Kinerja dan Kreativitas. Artinya dari tiga kesatuan itu harus satu padu dan tidak bisa dipisahkan untuk menghasilkan produk pariwisata yang mumpuni.
Sebagai informasi, data keseluruhan kunjungan wisatawan ke Banyuwangi pada tahun 2019 sudah mencapai angka 5 juta orang. Dari total uang yang berputar di sektor pariwisata mencapai Rp 7,7 triliun.
"Dari lingkaran survei Alvara, rata-rata tiap wisatawan domestik yang berkunjung di Banyuwangi menghabiskan uang Rp 1,5 juta per orang. Sedangkan wisatawan mancanegara yang naik Ijen, wisata ke Alas Purwo atau Sukomade rata rata menghabiskan uang Rp 2,5 juta per orang," tutur Marhen.
"Artinya ini potensi besar bagi desa-desa di Banyuwangi untuk menangkap peluang itu. Sehingga harapannya ketika kawasan desa wisata terbentuk, uang itu bisa mengalir ke masyarakat desa," imbuhnya.

Sementara itu perwakilan kepala desa (Kades), Rudi Hartono Rudi Hartono menyambut baik apa yang menjadi rencana besar Pemkab Banyuwangi untuk pengembangan pariwisata berbasis desa. Kades Kaliploso tersebut berharap jika konsep itu bisa bermanfaat besar untuk masyarakat.
"Ini luar biasa, jika nanti terealisasi maka roda perekonomian masyarakat desa dari sektor pariwisata bisa terus berputar," ungkap Kades yang juga penggagas Agrowisata Kebun Al-Qur'an pertama di Banyuwangi.
Agrowisata Kebun Al-Qur'an sendiri merupakan areal persawahan yang didesain menarik dengan tanaman buah-buahan serta tanaman yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Lokasinya ada di sebelah utara lapangan desa.
"Seperti buah tin, kurma, mentimun dan lain lain ada dalam kebun itu. Jadi satu paket, bisa wisata religi sekaligus edukasi. Setiap komoditi kami berikan penjelasan ayat atau hadits serta makna dan manfaat dibalik ayat tersebut," ucapnya. (*)

Sumber : Rizki Alfian/ TIMESIndonesia

Link Terkait